You're here: My Science Blogging » Matematika » Article: Tentang Matematikawan
Seseorang pernah menanyakan mengapa saya memilih jurusan Matematika pada tingkat sarjana. Motivasi saya sederhana, matematika memungkinkan saya tak perlu banyak belajar. Berbeda dengan biologi, kimia, sejarah, Pancasila dan beragam pelajaran lainnya yang membutuhkan ketekunan dalam menghabiskan lembar-lembar teks dan melakukan pengulangan agar teks tersebut terekam di kepala, matematika memungkinkan saya untuk tak melakukan semuanya jika sudah mengerti. Namun ketika saya mulai kuliah di matematika, prinsip itu ternyata tidak berlaku. Diperlukan waktu cukup banyak agar suatu materi dimengerti. Bahkan adakalanya menghapal rumus merupakan alasan yang masuk akan daripada menurunkan rumus yang bisa sampai berlembar-lembar.
Melihat kehidupan matematikawan rasanya pandangan awal saya ada benarnya. Di buku Kalkulus karangan Purcell tampak sebuah pola bagi kehidupan matematikawan yang umumnya berasal dari kalangan bangsawan. Memikirkan sesuatu yang tidak terkait langsung dengan permasalahan praksis sehari-hari merupakan sebuah kemewahan. Pola lain adalah matematikawan paruh waktu, seperti Fermat yang berprofesi sebagai ahli hukum. Hal yang menarik adalah keterkaitan antara matematika dan filsafat. Beberapa matematikawan, selain dikenal karena sumbangsihnya dalam dunia angka, juga dikenal sebagai filosof. Rene Descartes selain menyumbangkan bagian namanya untuk kurva Cartesian, juga dikenal sebagai Bapak filsafat modern. Dan dari sejarah filsafat, memang terlihat keterkaitan antara bangunan matematika dengan bagaimana manusia memandang alam dan dirinya sebagai bagian dari keseluruhan.
Adanya keterkaitan antara cara pandang matematikawan dengan penemuan-penemuan mereka membuat saya sadar bahwa bukan kecerdasan yang membuat mereka dapat merumuskan formula-formula canggih, melainkan bagaimana semuanya menyatu dalam kehidupan mereka. Waktu yang terus digunakan untuk berpikir. Tak masalah jika munculnya terasa ajaib seperti Archimedes di bak mandi atau Newton di bawah pohon apel.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
cURL error 52: Empty reply from server
Ikuti diskusi Ada 3 komentar untuk artikel ini.
ichang
yup,benar! antara filsafat dan matematika memang memiliki keterkaitan hal ini bisa dilihat dari zaman ketika Plato pertamakali membuat sebuah akademi(sebuah tempat diskusi antara plato dan murid-muridnya). Di depan Akademi yang didirikan Plato tertulis sebuah papan pengumuman yang kurang lebih bunyinya begini “orang yang tidak memahami logika dilarang masuk” hal ini membuktikan bahwasanya logika sangat dibutuhkan seseorang yang ingin menjadi filusuf. dan matematika adalah turunan dari logika, ketika alat yang bernama logika menjadi lebih banyak membutuhkan lembaran kertas maka matematika bilangn, dan rumusnya menjadi solusi terbaik. begitu kalo ga salah….
February 11th, 2009 at 7:37 am
archi
filsafat dan matematika sebuah kombinasi agung sekaligus penuh kejutan, ternyata setelah sekian lama matematika berubah menjadi ide gila menyenangkan, setiap simbol yang hadir begitu lugas dan tegas mengokohkan dirinya untuk punya arti, Galileo pun tak sanggup menahan kagumnya dan berujar “matematika adalah bahsa Tuhan yang menggoreskan tenntang alam raya”.
benar sekali filsafat sangat berpengaruh pada saat logika tradisional berkembang Aristoteles membagi ilmu pengetahuan (episteme) menjadi tiga bagian praktike, theoritike, philosopia, dan berkembnag analytikhe dan sekarang dikenal dengan logika, karena analytikhe didasarkan atas dasar premis-premis yang benar.
theoritike / ilmu tentang teoripun beliau klasifikasikan lagi dengan matematika, physic, dan filsafat utama atau teologi.
inilah mengapa teologi dinamakan meta fisika karena filsafat terletak setelah fisika sehingga menggunakan kata meta yang berarti sesudah dan sering disebut meta fisika.
eureka….
February 12th, 2009 at 6:49 pm
christopel
yoph………..tu bener,
memang beda ya, yang kita rasakn saat menyenamgi matematika di sma dibanding stelah kuliah, buktiny ja, aq waktu gak perlu belajar serius amat jika menjelang ujian mat, tapi sekarng………….
takut deh rasanya klu menjelang ujian tidak belajar, ia khan………
aq mau nanya ma teman2 nih, kira kira prosprk keja sarjana matematik itu apa ya?
eh…..salam kenal ya ……aq mahasiswa matematika univ sumatra utara….
May 12th, 2009 at 9:16 am