You're here: My Science Blogging » Matematika » Article: Maman A. Djauhari

Maman A. Djauhari

yuti — November 12, 2008 / 9:56 am

Dalam acara pembukaan Konferensi Matematika dan Statistika antara Indonesia-Malaysia, Prof. Dr. Maman A. Djauhari mengungkapkan lemahnya pendidikan matematika di Indonesia karena tidak mengajarkan atau memberi latar belakang ilmu matematika dengan filsafat. Maman yang juga merupakan Guru Besar ITB, sekaligus presiden Moslem Society of Mathematics-Statistics in South East Asia ini melanjutkan keterpisahan antara matematika dengan filsafat ini menyebabkan lemahnya interpretasi siswa atas sebuah persoalan matematika.

Dalam tulisannya yang berjudul ‘Kepastian Itu Mahal’ di Jurnal Sosioteknologi, Maman mengungkapkan “learning truly begins when we have a solid understanding of the basic. Learning is not compulsary… neither is survival.” Apa yang diungkapkan profesor bidang statistika ini tepat menggambarkan bagaimana kehidupan ini berjalan: penuh ketidakpastian dan bagaimana kenyataan disusun di atas ketidakpastian. Dalam permainan kartu misalnya, mahalnya kepastian ini diartikan dalam taruhan. Namun bukankah kehidupan kita penuh dengan ketidakpastian. Pandang probilitas sesuatu dengan alpha, maka peluang untuk tidak mendapatkan hal tersebut adalah (1-alpha). Angka ketidakpastian ini akan berubah menjadi 1 pasca kejadian (t). Dan bagaimana kita memilih diantara ketidakpastian-ketidakpastian tersebut yang membentuk kurva logistik?

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Ada 4 komentar untuk artikel ini.

  1. sumantri widatdo

    untuk matematika, kita harus melihat dari sisi menariknya dulu supaya betah dengan matematika. kalau sudah menarik, baru di kuatkan dengan filsafatnya.

    kalau filsafatnya dulu diajarkan ya agak berat. wong banyak orang yang munyeng kalau belajar matematika tok, apalagi pakai filsafat.

    November 12th, 2008 at 3:00 pm

  2. Cahyana E. Purnama

    Saya setuju dengan pendapat bahwa kelemahan pengajaran matematika di Indonesia yaitu berawal dari lemahnya pengajaran (pemahaman) masalah filsafat, yaitu dalam arti bahwa logika yang baik tidak pernah cukup diberikan kepada anak-anak. Bahkan orangtua atau gurunya sendiri sering masih terjebak dalam konsep-konsep logika yang tidak kokoh. Contoh sederhana, sejak kecil anak selalu dibiarkan terjerat dalam ketidak-pastian tentang benar atau salah. Orangtua sering berbohong untuk menutupi keburukan dalam rumah-tangga, selalu mengaku hal-hal yang baik saja. contoh lain adalah hal merokok, yang sudah sering disebutkan sebagai merugikan, tetapi orang-tua masih banyak yang merokok. Jika anak bertanya, jawabnya adalah bahwa anak kecil tidak boleh merokok karena masih kecil. Logikanya tidak jelas, kecuali larangan atau ancaman. Hal serupa juga tampak ketika berbicara tentang kepastian bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan karena Teori Evolusi sudah menjadi acuan dalam segala hal.
    Jika keadaan dasarnya saja sudah sedemikian parah, tentu akibatnya sudah dapat dipastikan, bukan?

    November 21st, 2008 at 10:26 am

  3. watchmath

    Saya tidak tahu apa yang dimaksud Pak Maman dengan filsafat. Tapi saya pikir tidak ada keterkaitan langsung antara lemahnya matematika di Indonesia dengan tidak melatar belakanginya dengan filsafat. Saya lebih cenderung berpendapat bahwa lemahnya matematika di Indonesia karena penekanan yang berlebihan ke arah matematika adalah set of rulestanpa memberi penjelasan mengapa set of rules ini masuk akal.

    November 30th, 2008 at 10:14 pm

  4. averpix

    Saya setuju dengan Pak Maman bukan karena saya pernah jadi mahasiswa beliau, tapi saya dapat “menikmati” matematika tsb.
    Hal ini menurut saya sangat signifikan, ingat ketika Anda bertanya pada diri sendiri “binatang apa sih epsilon delta ini?” dengan kening yang berkerut? Kalau kita tidak mengetahui filosofinya, saya yakin sampai saat ini kening kita masih berkerut apabila mengingatnya (atau sebaliknya, EGP…)
    Sebagai contoh, berapa banyak orang, mungkin juga mahasiswa, bahkan mungkin juga pengajar, bahwa dalam Game 3d yang dimainkan anak-anak sekarang di situ ada Aljabar Linier, Analisis Kompleks, (kalkulus & Geomeri so pasti), mekanika klasik, optik, fresnel dll…
    Saya pikir, sangat penting mengetahui apa yang kita pelajari, untuk mempermudah mengetahui bagaimana kita harus mempelajarinya.

    December 20th, 2008 at 9:48 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • Koen — Terima kasih, Echi dan Dhani :). Salah satu misi Pernik Ilmu memang membuka mata masyarakat, dengan bahasa awam, tentang fakta-fakta ...
  • » Mengapa Langit Malam Gelap? ~ Blog Archive ~ Pernik Ilmu (Asia Blogging Network) — [...] pertama di Pernik Ilmu ini berjudul Mengapa Langit Biru :). Tapi kita tahu langit hanya biru di hari yang ...
  • dedy — sebutkan macam2 sel volta!!!kasih gambar dan bagaimana carajanya!!!
  • Taufik Hidayat — Mengapa pd wkt bln purnama kalau kita mancing dilaut, gak ada ikannya yg mau makan umpan yg ada di kail ...
  • sardes — hi.......Q sardes saat ni sedang kul di salah satu PTN yang tentunya FMIPA n jur MM...q mw nanya nih kira2 ...
  • Mukmin — slam kenal mbak Yessi,
  • nurul azizah — salut wat astronot....
  • elang — nyerah dech, apa jawabannya???????
  • In-daH — oo....kERen banget....
  • Erastosthenes — Jadi, 1 drajat itu sbnarnya brp km? 1 drajat itu brp menit?