You're here: My Science Blogging » Matematika » Article: Game Theory: Free Your Imagination!!!
Dalam pelajaran makro ekonomi yang saya peroleh, ada teori yang menarik, yaitu Game Theory. Beberapa tokoh pengembang gagasan ini adalah John Von Neumann dan John Nash. Salah satu bentuk dari permainan ini adalah zero-sum yaitu keadaan dimana pemenang memperoleh semuanya. Lawannya adalah non-zero sum yang memungkinkan terjadinya koalisi antara sesama pemain, dan kondisi akhirnya tidak akan biner. Hal yang menarik dalam mempelajari teori-teori ini adalah pentingnya kekuatan imajinasi. Contoh yang cukup sering digunakan adalah permainan poker, atau mungkin permainan chapsa. Dalam permainan poker, seorang pemain mengetahui kartunya (ada beberapa variasi poker yang memungkinkan lawan dapat mengetahui beberapa kartu kita) namun tidak kartu lawannya. Inti permainan adalah dalam memprediksi kartu lawan, dan menilai seberapa bagus kartu yang kita miliki mulai dari royal flush, straight flush, four of a kind, full house, double double dsb. Hal yang menarik dari permainan ini adalah bagaimana kita menentukan strategi atas ketidaktahuan kartu lawan, dan peluang bahwa kartu kita adalah yang terbaik?
Dalam ekonomi, Game Theory ini juga digunakan dalam menentukan pemasangan iklan. Misalkan sebuah terdapat beberapa perusahaan telepon genggam, berapa kemungkinan perusahaan tersebut tidak memasang iklan? Dalam kenyataan kita bisa melihat bahwa pertandingan iklan di antara sesama penjual telepon genggam akan terus terjadi untuk menarik konsumen. Hal ini terjadi sejalan dengan perubahan teknologi yang juga terus melaju kencang. Padahal dengan melakukan koalisi atau regulasi tertentu, ‘belanja’ iklan tidak perlu menghabiskan anggaran besar-besaran. Akhirnya, masing-masing pihak akan membentuk kesetimbangannya sendiri, yang dapat terus dinegosiasikan.
Saya merasakan bahwa kunci dari belajar matematika terletak pada kebebasan pikiran kita untuk menguji berbagai gagasan yang mungkin. Selain di Game Theory, hal ini saya temukan ketika belajar teori antrian. Misalnya berapa waktu yang diperlukan seseorang dalam mengantri di Bank yang sistemnya First In First Out, apa yang terjadi jika tellernya ada tiga, bagaimana peluang seseorang yang masih harus menunggu konvensional–bukan menggunakan nomor antrian. Semuanya jadi benar-benar kembali pada kekuatan logika, sebagaimana yang diisyaratkan oleh Nash
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
Yessi Pratiwi
Tapi dalam praktek realnya, Game Theory ini hanya akan efektif diterapkan kalau kita sudah terlebih dahulu mengetahui strategi lawan.
Dalam contoh kasus pemasangan iklan tersebut misalnya.
…sementara konsen kerja seorang Marketing Inteligence perusahaan bukan hanya disana. Inilah yang membuat Game Theory seperti sebuah Theory yang dahsyat, tapi tidak well applicable di masalah bisnis yang kompleks.
October 11th, 2008 at 12:44 pm
yuti
Iya Chie, tadinya saya mau menggunakan ini dalam ilmu sosial. Tampak canggih di konsep, dan secara perhitungan matematis juga, tapi ketika mengambil contoh kasus ternyata banyak asumsinya
October 20th, 2008 at 5:44 pm