You're here: My Science Blogging » Matematika » Article: Ilustrasi vs Ide
Sebagian besar pengunjung blog yang tersasar ke blog ini adalah para pecinta dan pengajar matematika, namun dari komen yang masuk, ada juga yang tidak suka dengan matematika. Dengan melihat pola orang-orang yang tersasar ke blog ini, saya jadi mulai meresapi kata-kata Shakespeare lebih dalam, “The one you love, is the one you hate.” Hanya ada batasan tipis antara suka dan benci karena kedua-duanya menimbulkan aksi, salah satunya adalah dengan mengetikkan kata di mesin pencari dan sampai ke blog ini
Hal yang membuat saya tergelitik adalah bagaimana mengajarkan anak-anak agar menyukai matematika? Momok apa yang sebenarnya membuat matematika menjadi mata pelajaran yang menakutkan? Apakah karena ada perbedaan bahasa: dalam percakapan kita menggunakan A-Z, sedangkan dalam matematika selain menggunakan 0-9, kita juga menggunakan konsep integral, sigma, diferensial, optimasi dan notasi-notasi lainnya, atau karena matematika abstrak?
Tapi apa yang dimaksud dengan abstrak? Misalkan ketika kita pertama kali belajar perkalian. Pendekatan yang biasanya digunakan adalah menggunakan tabel perkalian. Kita menghapal 9 x 9 =81, 7 x 6=42, tapi apakah konsep dari perkalian tersebut juga turut diajarkan? Tante saya pernah protes karena anaknya disalahkan karena mengartikan 3 x 4 sebagai ada 3 bilangan 4, dan bukannya ada 4 bilangan 3. Padahal sifat dari operasi kali adalah komutatif!!!! Belum lagi kalau mau mengulik esensi dari bilangan itu sendiri, apa yang dimaksud dari 3? Potongan lidi sebanyak 3 buah (dan ini sebenarnya akan membentuk looping karena muncul lagi konsep mengenai 3) atau ada konsep yang ditanamkan erhadap materi lidi? Akhirnya ilustrasi menggunakan benda-benda material akan menghambat kreativitas yang ada di matematika itu sendiri, meski tetap perlu.
Saat ini sudah ada banyak piranti lunak yang mendukung visualisasi matematika, seperti matlab, mapple, mathematica. Dengan menggunakan piranti lunak tersebut, visualisasi dari luas daerah dibawah kurva bisa diperoleh dengan baik. Tapi pembuktian formal tetap dilandaskan pada logika. Seperti ketika menggunakan postulat Euclid dalam pelajaran geometri. Mungkin harus ada tahapan-tahapan antara bermain, alat peraga dan free your imagination. Contoh penerapan logika yang sederhana adalah untuk mematahkan argumen semua kuda berwarna hitam, cukup tunjukan satu kuda berwarna putih maka proposisi tersebut akan batal.
Pusing ya? Hihi, jangan just free your mind and play
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 3 komentar untuk artikel ini.
Vincent
Saya juga mengalami hal yg sama…
Apadiijinkan kita saling tukar links..?
September 21st, 2008 at 1:14 am
yuti
Mau.. saya mau menjadikan blog ini sebagai portal matematika Indonesia, tapi saya masih kesulitan untuk merubah templatenya dan menyelipkan link-link matematika Indonesia
September 26th, 2008 at 3:45 pm
kaning
waduh…mb, makasih udah punya blog yang menarik banget. matematika asyiknya kalo udah pusing tujuh keliling…
November 13th, 2008 at 1:25 pm