Just another Myscienceblogs.com weblog
Apakah pola relasi sosial dapat diterapkan mengikuti fenomena-fenomena fisik? Eksistensi, konsistensi dan konvergensi dalam gelombang pada persamaan diskrit misalnya, mungkinkah pendekatan tersebut dapat digunakan untuk membuat kebijakan (untuk menjaga konsistensi), hingga akhirnya mengarah pada konvergensi? Mungkin jawaban atas jawaban ini relatif. Namun dengan melihat bagaimana persepsi seseorang terhadap keindahan dapat diformalkan dalam bahasa matematika, seharusnya ada benang merah antara fenomena fisik dan fenomena sosial. Hal yang masih menjadi pertanyaan adalah bagaimana batasan-batasan sosial ditetapkan?
Konsep self-reference yang ada di matematika sebagaimana banyak ditemui di biologi memunculkan hipotesis seperti adanya sebuah tarikan bagi manusia untuk berada dalam ‘keteraturan’ alamiah tertentu. Namun apakah keteraturan ini sama untuk semua orang atau bisa berbeda-beda, bergantung latar belakang mereka? Andaikan bisa diterapkan transformasi, bagaimana membangun transformasi ini agar dapat diterima oleh semua pihak?
Mungkin sebagaimana memahami deret, kuncinya adalah dalam memahami sosial. Sudah sejauh mana kita sudah mengerti bagaimana kita mnjadi bagian dari sebuah komunitas yang lebih besar.
Popularity: 11%
This entry was posted by yuti on Sunday, June 8th, 2008 at 7:24 am and is filed under Umum. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.
Join the discussion. Add your comment.