Just another Myscienceblogs.com weblog
Tiap tahun, nama matematika pasti menjadi primadona. Sayangnya, penyebutan nama matematika di halaman-halaman depan surat kabar lebih banyak berisi mengenai tangis para siswa setelah menyelesaikan ujian, alih-alih keasyikan mengerjakan matematika, atau peran matematika dalam kehidupan. Ada apa dengan matematika?
Sebagaimana dilaporkan dalam sebuah surat kabar nasional, para pengajar di Palembang menyambut baik kenaikan standar rata-rata UN, yaitu 5,25 dan hanya boleh mengantongi satu nilai 4. Standar ini dikeluhkan oleh siswa, terutama terkait salah satu pelajaran yang diujikan, yaitu matematika.
Berita mengenai UN matematika yang kerap disertai derai air mata nyaris menjadi peristiwa tahunan. Hal yang ingin saya pertanyakan adalah relasi antara target pengajaran matematika, dengan indikator yang digunakan. Ketika saya kuliah, derai air mata juga bukannya tidak pernah terjadi. Ada sebuah mata kuliah yang senantiasa menyajikan distribusi nilai rata kanan, nilai mahasiswa yang mendapat nilai A biasanya cuma 2 orang, dari sekitar 70 mahasiswa yang mengambil mata kuliah tersebut. Nilai B, hanya didapat paling banyak belasan. Sisanya nilai C, D dan E. Tapi saya juga tidak setuju jika standarnya diturunkan, karena mata kuliah tersebut merupakan salah satu dasar yang digunakan dalam mata kuliah-mata kuliah selanjutnya…
Hmm… para dosen dan pengajar, ada yang memiliki jalan keluar?
Popularity: 18%
This entry was posted by yuti on Monday, May 12th, 2008 at 11:16 am and is filed under Pendidikan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.
One comment for this entry. Add yours
TGH.Nizar AL-Kadiri
Matematika memang menakutkan bagi siswa. sudah menjadi semacam mitos. padahal matematika kan MAKIN DITEKUNI MAKIN TIDAK KARUAN hehehehe…
June 4th, 2008 at 10:36 am