Just another Myscienceblogs.com weblog
Dalam pelajaran geometri, sebuah pembuktian pada umumnya melibatkan persamaan-persamaan. Ilustrasi digunakan sebagai pembuka untuk pembuktian formal menggunakan bahasa simbol. Hal ini membuat saya bertanya-tanya, mana yang muncul lebih dulu, persamaan mampu menciptakan bentuk visual yang indah, visual mampu menghasilkan bentuk persamaan yang indah, atau relasi antara kedua proposisi tersebut setara (dihubungkan dengan jika dan hanya jika)?
Relasi antara matematika dan seni sudah berlangsung cukup lama. Para matematikawan senang mencari pola dalam bentuk-bentuk seni yang terdapat di alam. Sebaliknya, seniman pun menggunakan konsep-konsep matematika dalam menciptakan karya mereka. Salah satu gambar yang terinspirasi dari konsep ’segitiga mustahil’ Roger Penrose tampak dari gambar segitiga di bawah (sebelah kiri) ini. Segitiga ini dibuat oleh Oscar Reutsvard pada tahun 1934. Konsep kemustahilan atu kerap disebut dengan ilusi optik sekaligus membuka ruang pemahaman bagi cara kerja otak dalam sistem persepsi manusia.
Kredit gambar: om Wolfram ![]()
Popularity: 15%
This entry was posted by yuti on Thursday, April 17th, 2008 at 1:24 am and is filed under Umum. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.
There are 2 comments for this entry. Add yours
Nicco Simanjuntak
Bagaimana cara mengajarkan pola berpikir logis untuk tingkat sekolah dasar kelas lima. misalnya pemecahan test kompetisi olimpiade math.
April 18th, 2008 at 2:13 pm
Aini
matematika dan seni juga suatu hal yang tidak bisa dipisahkan. Kalo kita mempermasalahkan mana yang dahulu, maka tergantung sudut pandangnya
April 30th, 2008 at 4:03 pm