You're here: My Science Blogging » Matematika » Article: Seni, Sains & Objektivitas
Apa yang Anda rasakan ketika mendengar musik klasik? Jawabannya bisa beragam. Bagi para pecinta musik klasik, simfoni megah yang ditawarkan bisa membawa ketenangan, ataupun semangat, namun bagi sebagian orang lainnya, musik klasik bisa jadi sangat membosankan. Lalu mungkinkah sesuatu yang menyangkut selera, seperti musik, lukisan, arsitektur dibakukan dalam sebuah rumusan matematis mengenai estetika?
Relasi antara estetika dan matematika telah menjadi ketertarikan para matematikawan sejak lama. Ketertarikan ini melibatkan penelitian terhadap artifak-artifak purba, kaligrafi, musik, lukisan, serta bangunan-bangunan bersejarah. Gambar dan lukisan yang dilakukan manusia purba di dinding-dinding gua misalnya, menunjukan adanya pemahaman akan konsep simetri. Begitupula lukisan-lukisan karya Leonardo da Vinci dan Albrecht Durer yang sangat memperhatikan proporsi tubuh manusia dan geometri. Perhatian pada geometri ini selain bisa diapresiasi visual, juga bisa dijelaskan secara matematis, lebih tepatnya menggunakan Kaidah Emas. Pada musik klasik relasi ini bisa diamati pada gubahan Bach, Prelude dan Fugues, yang mengikuti skala Pythagoras.
Apa yang menghubungkan matematika dengan seni, sebuah ‘gambaran’ ideal di kepala mengenai dunia, atau kebetulan saja? Bagaimana dengan musik rap, apakah ‘keacakan’ juga bisa dijelaskan secara matematis?
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.