You're here: My Science Blogging » Matematika » Article: Matematika, Bagaimana?
“Dengan menyukainya aku masuk menjadi mahasiswa matematika…meski ku akui aku paling bodoh soal matematika. Tapi aku beruntung menjadi orang bodoh asalkan tidak malas untuk belajar untuk mengerti bidang yang kusukai ini…” (Novi, Pembelajaran Matematika Sekolah)
“memang matematika itu memusingkan, guru yang mengajarkannya juga pusing?tapi solusi masalah ini adalah matematika tidak dijadikan mata pelajaran.. tapi lebih kepada aplikasi kehidupan” (Yunita, Pendidikan Matematika)
Pertanyaan yang kerap saya temui ketika orang menanyakan jurusan adalah matematika mau kemana? Menurut buku panduan yang saya peroleh ketika baru menginjak tahun pertama di matematika, banyak lulusan matematika yang bekerja di bank atau asuransi, tapi saya sendiri sama sekali tidak terpikir untuk bekerja di kedua bidang tersebut. Kalau ditanya apa yang menyebabkan saya memilih matematika adalah karena suka, dan karena saya malas menghapal.
Ternyata masalahnya tidak sesederhana itu. Ketika berhadapan dengan dosen tertentu, kesenangan saya bisa langsung memudar. Kalau itu terjadi biasanya saya mencari buku yang enak untuk dibaca, dan kalau cara itu tidak berhasil juga, biasanya saya jadi tidak menyukai mata kuliah yang diajarkan. Jadi bagi saya, suka adalah langkah awal, dan yang kedua adalah bekerja keras untuk mewujudkan kesukaan itu.
Pengajar merupakan salah satu faktor penentu lainnya. Saya beruntung memiliki pembimbing yang pandai bercerita. Kadang kalau dihadapkan pada sederetan teorema, kita langsung tercebur didalamnya tanpa mengetahui cerita dibalik teorema tersebut, kalau sudah seperti itu yang tampak langsung susah dan tidak menarik. Tapi bagaimana agar pengajar mampu menjadi seorang pencerita yang baik, saya tidak tahu.
Cara lain untuk menyiasatinya adalah dengan membaca web-web milik matematikawan, atau membaca pengantar singkat mengenai sebuah fungsi, ataupun konjektur(belum bisa dibuktikan kebenaran maupun kesalahannya) di Wikipedia. Dengan melakukan hal itu, kita bisa memperoleh cerita.
Menghilangkan matematika? Saya sendiri sering ditanya seperti apa matematika yang cocok bagi tiap orang. Tapi hingga kini saya belum menemukan jawabannya.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja
Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
Yudhistira Aditya
saya masih bingung kenapa kok 0! = 1.
tolong jelaskan ya….
mengenai blog ini saya menilainya sangat bagut buat forum diskusi dan belajar….
December 11th, 2007 at 3:03 pm
Nizar AL-Kadiri
sebelum menentukan jurusan sebaiknya kita telah mengetahui potensi diri. jangan karena hendak mengejar lapangan kerja kemudian kita memaksakan kemempuan kita.
ahli dan guru matematika sekarang ini tidak kalah sulitnya kita dapatkan dibanding raja hutan yang telah kehilangan habitatnta.
guru matematika mempunyai lapangan kerja yang siap menyambutnya begitu dia wisuda. jangan kata pendidikan swasta yang memang mengandalkan honorer, sekolah negeri saj merekrut banyak guru bantu, belum lagi yang secara resmi oleh pemerintah untuk jadi PNS.
December 15th, 2007 at 10:40 am