Just another Myscienceblogs.com weblog
Bagaimana mengajarkan kreativitas? Poincare, Brouwer, Einstein, Heisenberg, Bohr, Gödel adalah sejumlah ilmuwan yang berpendapat bahwa penemuan pengetahuan berbeda dengan validasi pengetahuan. Lebih jauh lagi, mereka berpendapat kreativitas adalah sesuatu yang irasional, intuitif, melibatkan insting, dan terjadi di bawah alam sadar.
Apa yang diungkapkan oleh para ilmuwan tersebut dapat terlihat pada sosok Chad Meredith Hurley, salah seorang pendiri situs YouTube yang selain berdarah seni juga memiliki minat yang besar terhadap teknologi dan bisnis. Situs yang memungkinkan Anda menonton video tersebut pada usianya yang ke-21 bulan berhasil dijual dengan harga 1,65 miliar dollar AS kepada Google. Kisah Google, merupakan cerita lain lagi mengenai dua mahasiswa Stanford, Sergey Brin dan Larry Page dalam memadukan kecerdasan dan kreativitas.
Adanya kreativitas yang diperlukan dalam keberhasilan sebuah usaha, baik bisnis maupun dalam menciptakan persamaan-persamaan baru, menyebabkan ruang irasional, intuitif, insting menjadi hal mutlak. Lalu mungkinkah hal-hal tersebut dipelajari? Dalam Art, Mathematics and Music, Moiseiwitsch mengungkapkan adanya skala Pythagoras yang ditemukan dalam musik gubahan Johann Sebastian Bach dan Chopin. Begitupula dalam rancangan bangunan Panthenon di Athena yang mengikuti kaidah segi empat emas.
Persamaan antara seni yang acap dikategorikan sebagai subjektif dengan pengetahuan yang objektif mengindikasikan beberapa hal. Pertama, proses kreativitas tak mengenal batas-batas subjektif-objektif. Bagi para matematikawan spiral pada cangkang nautilus menimbulkan ketakjuban karena mengikuti deret Fibonacci(1,1,2,3,5,8,…), sedangkan bagi seniman atau pujangga, keindahan nautilus mampu menjadi inspirasi bagi paduan warna-warni di kanvas ataupun kata-kata puitis.
Sama halnya ketika Newton sedang duduk di bawah pohon apel dan terinspirasi mengenai gaya gravitasi. Terlepas dari kebenaran adanya pohon apel tersebut, sebagaimana yang dituliskan oleh James Gleick, peristiwa alam tersebut menjadi pemicu atas akumulasi pengetahuan yang dimiliki Newton. Bagi saya, dan mungkin juga Anda, ketika ada apel jatuh yang terpikir langsung betapa enaknya jika apel tersebut dimakan.
Kedua, kreativitas adalah sesuatu yang alamiah. Hal yang menentukan keberhasilan sebuah proses kreatif adalah langkah-langkah untuk mewujudkan ide-ide liar tersebut dalam sebuah formula baku. Para ilmuwan dalam sebuah metode formal, para seniman dalam karya yang keindahannya dapat dipersepsi oleh panca indra.
Peran keindahan juga tampak pada sejarah astronomi. Sejak diajukan oleh Eudoksus (409-356 SM), diterima oleh Aristoteles, dan dirumuskan kembali oleh Ptolemeus, bumi dianggap sebagai pusat dari tata surya. Tata surya yang berpusat pada bumi ini memiliki persoalan untuk menjelaskan gerakan Merkurius sampai Saturnus yang memiliki gerakan beragam. Ptolomeus, astronom ternama pada zamannya, mencoba menutupi persoalan ini dengan membuat sistem yang memuat 80 lingkaran agar dapat menjelaskan pergerakan planet-planet yang beragam.
Meski demikian, masih ada ketidakcocokkan antara model yang dibuat Ptolemeus dengan pengamatan. Sistem rumit inilah yang memancing revolusi yang diusung oleh Copernicus. Pandangan Copernicus yang dibukukan dalam De Revolutionibus Orbus Caelestium(1543), mengganti posisi bumi dengan matahari. Pergantian ini memberi implikasi sistem pergerakan planet yang lebih sederhana dan
Keindahan dan pengetahuan menjadi dua hal yang tak terpisahkan. Hal yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana sistem pendidikan formal dapat mengakomodasi kreativitas ini?
Popularity: 20%
This entry was posted by yuti on Tuesday, October 9th, 2007 at 10:48 am and is filed under Umum. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.
Join the discussion. Add your comment.