You're here: My Science Blogging » Matematika » Article: Perkalian
Komen terakhir dari Zulkarnaini di perkalian minus mengingatkan saya pada pembuktian menggunakan induksi, sekaligus membuat saya bertanya-tanya, bagaimana belajar matematika yang baik? Saya sendiri pernah dinasehati oleh dosen wali gara-gara malas menghapal persamaan statistika yang banyak. Menurut beliau persamaan-persamaan tersebut akan dimengerti kalau banyak latihan dan dengan sendirinya persamaan-persamaan tersebut akan menunjukan pola. Hal serupa saya temukan ketika mencari cara belajar perkalian untuk pertama kalinya di internet.
Dari hasil pencarian saya, salah satu metode untuk mengajarkan anak-anak pertama kali perkalian adalah dengan membuat tabel perkalian untuk melihat perilaku angka-angka. Misalkan kita pilih tabel perkalian 5×5, dengan kolom dan baris pertama diisi dengan bilangan dari 1, 2, 3, 4, 5. Dengan mengalikan baris dengan kolom diperoleh pola, yaitu baris ke-i dan kolom ke-i, untuk i=1,2,…,5 memiliki bilangan yang sama. Selain melihat pola ketika sebuah angka dioperasikan dengan bilangan lain, kita juga menemukan sebuah sifat dalam aljabar, yaitu a.b=b.a.
Cara lain untuk belajar perkalian untuk yang pertama kalinya adalah dengan menggunakan benda-benda yang terlihat, seperti balok maupun lego. Susun potongan-potongan lego tersebut dengan berbagai variasi. Misalkan ambil beberapa potongan lego yang memiliki 3 satuan sebanyak 4 buah. Kemudian di bawahnya, susun kepingan lego yang memiliki 6 satuan sebanyak 2 buah. Dari perbandingan tersebut, kombinasi keduanya menghasilkan susunan lego yang sama panjang. Permainan seperti ini mampu melatih anak untuk melihat pola dan berabstraksi, dua poin yang menjadi landasan dalam matematika.
Kemampuan manusia, khususnya balita untuk memahami matematika telah diteliti oleh Elizabeth Spelke, seorang psikolog dari Universitas Harvard. Ia melakukan penelitian dengan menunjukan 13 titik berwarna biru di layar komputer kepada anak-anak berusia lima tahun. Titik-titik tersebut kemudian ditambahkan dengan 17 titik berwarna biru lainnya sebelum digabungkan. Kemudian mereka diperlihatkan 50 titik berwarna merah, dan ditanya mana titik yang lebih banyak, merah atau biru. Dari jawaban, 2/3 dari anak-anak menjawab benar, yaitu titik merah lebih banyak daripada titik biru. “Apa yang diperlihatkan oleh penelitian kami menunjukkan bahwa anak-anak memiliki pemahaman terhadap penambahan dan angka. Oleh karena itu, kami berharap dapat mengasah kemampuannya kepada instruksi matematika yang lebih rumit,” kata Spelke.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
TGH.Nizar AL_Kadiri
banyak solusi yang bisa ditawarkan sebagai solusi untuk masalh ini.
Metode LATICCA yang pernah say baca juga merupakan metode alternati untuk mendapatkan hasil ayng tepat dalam berhitung perkaian ini. entaran dah saya ajari caranya. key
November 26th, 2007 at 1:48 pm
joez
gmn dunk caranya?? kasih tau..pusing neh! d suruh d hafalkan malah tambah pusing anaknya,,
February 25th, 2008 at 8:42 pm