You're here: My Science Blogging » Matematika » Article: Teori Kementakan(2)

Teori Kementakan(2)

yuti — September 4, 2007 / 1:56 pm

Dengan adanya teori kementakkan, kejadian-kejadian yang pada mulanya terlihat sebagai satuan terpisah kini dapat kita lihat sebagai sebuah elemen dalam jaring-jaring kehidupan. Contoh yang dapat kita temui sehari-hari adalah membludaknya sinetron remaja di layar kaca. Hal ini tak lain disebabkan oleh adanya survey–yang biasanya diserahkan ke lembaga independen seperti AC Nielsen—untuk menentukan acara seperti apa yang meraih rating tertinggi. Peluang untuk meraih iklan sebanyak-banyaknya menjadi sedemikian bergantung dengan tren yang berlangsung pada saat itu. Hal ini tergambar dari anjloknya beberapa film idealis yang berusaha menyajikan warna baru, seperti Cau Bau Kan, Pasir Berbisik, Eliana Eliana dll.

Rating, peluang yang kecil memang bukan segala-galanya. Meski peluang seorang menang dalam permainan dadu hanya 1/6(dari skala 1), ia tetap saja dapat menang. Artinya, meski angka diatas kertas menunjukkan peluang yang sangat kecil, tetap saja ada kemungkinan untuk berhasil. Sama halnya dengan formula yang digunakan para sineas saat ini, bisa saja pada suatu titik para penonton muak dengan segala tema remaja dan beralih pada genre drama serius. Peluang kecil yang ditangkap oleh seorang sineas idealis, dan kemudian menjadi laku keras. Ada beberapa penjelasan jika hal tersebut terjadi, pertama sineas yang mengambil genre berbeda dengan budaya massa melihat ada lahan yang belum tergarap. Kedua, sineas tersebut sudah melihat kejenuhan penonton pada sajian dengan tema yang berkutat pada masalah baik-jahat, kaya-miskin, dendam-pemaaf, sehingga ia memperoleh peluang yang lebih besar untuk sukses.

Pengaruh teori kementakkan dalam kehidupan sehari-hari cukup besar. Terlepas dari kekeraskepalaan para penjudi yang tidak mempedulikan kecilnya peluang mereka untuk menang, teori kementakkan telah membuat terobosan dalam membakukan hal-hal yang dulunya dianggap sebagai kebetulan. Teori kementakkan yang berawal dari meja judi, kini tidak terbatas pada sebuah permainan tapi juga meliputi kemungkinan-kemungkinan lain seperti, peluang seorang salah menelepon, rumah Anda terkena bom, membeli makanan yang kadaluarsa, lama umur seseorang dll. Kemungkinan-kemungkinan yang dibakukan dalam persamaan-persamaan mungkin terbatas. Namun dengan mempelajari teori kementakkan kita dapat belajar menaklukkan dunia, yakni memprediksi konsekuensi apa yang akan kita hadapi berkaitan dengan pilihan yang kita ambil.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.

  1. ibnusomowiyono

    Benar sekali, logika penjudi itu dapat dimanfaatkan oleh siapapun yang ingin “berjudi” dalam kehidupan, dengan kata yang mentereng “mengadu nasib”. Mereka seakan tak peduli tentang hukum kemungkinan sebab betapapun kecilnya kemungkinan berhasil, selama masih ada kemungkinan,dicoba juga untuk dilakukan. Tindakan ini dapat disebut berjudi jika mempertaruhkan sesuatu yang telah dicapainya.
    Dalam teori ekonomi (Goszen): jika telah mencapai titik kepuasan (kejenuhan) maka manusia akan mencari sesuatu yang baru. Kesempatan ini dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan peluang “melempar” gagasan baru.
    Saya membuat fiksi Blackhole yang sangat kontroversial dan jelas tak memiliki nilai jual saat ini. Saya terinspirasi oleh teori kementokan/kementakan atau teori kejenuhan. Bedanya saya tak berjudi karena tak mempertaruhkan sesuatu, saya tak berharap mendapatkan sesuatu dalam seketika (instant) melainkan atas dasar idealisme: Hidup adalah kesempatan yang diberikan oleh Tuhan YME untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat guna “diwariskan” kepada generasi sesudahnya.
    Saya yakin fiksi saya suatu saat akan laku, tetapi saya harus berusaha memberikan informasi kepada pembaca agar dapat mengikuti jalannya fiksi saya , memahami, hingga achirnya dapat menikmati. Itulah sebabnya saya menggagas Teori Minimalis. Diluar dugaan saya ternyata TM lebih dulu laku dari FBH.
    Saya mensitir ucapan Stephen Hawking yang menyatakan : perbedaan itu memiliki nilai tambah.
    Saya sangat mengagumi Hawking, bukan karena pikirannya yang cemerlang melainkan sportivitasnya yang luar biasa: Sebelum ajalnya tiba dia meangakui kesalahan teorinya dan berusaha untuk mengoreksinya.
    Saya bersukur karena kesempatan inilah (koreksi teori Hawking) menjadikan TM dilirik orang.Jadi tak benar anggapan bahwa ilmuwan besar ini mengoreks teorinya gara-gara TM, tetapi sebaliknya TM menjadi memiliki arti akibat Hawking meralat teorinya.

    August 27th, 2009 at 4:48 am

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • Koen — Terima kasih, Echi dan Dhani :). Salah satu misi Pernik Ilmu memang membuka mata masyarakat, dengan bahasa awam, tentang fakta-fakta ...
  • » Mengapa Langit Malam Gelap? ~ Blog Archive ~ Pernik Ilmu (Asia Blogging Network) — [...] pertama di Pernik Ilmu ini berjudul Mengapa Langit Biru :). Tapi kita tahu langit hanya biru di hari yang ...
  • dedy — sebutkan macam2 sel volta!!!kasih gambar dan bagaimana carajanya!!!
  • Taufik Hidayat — Mengapa pd wkt bln purnama kalau kita mancing dilaut, gak ada ikannya yg mau makan umpan yg ada di kail ...
  • sardes — hi.......Q sardes saat ni sedang kul di salah satu PTN yang tentunya FMIPA n jur MM...q mw nanya nih kira2 ...
  • Mukmin — slam kenal mbak Yessi,
  • nurul azizah — salut wat astronot....
  • elang — nyerah dech, apa jawabannya???????
  • In-daH — oo....kERen banget....
  • Erastosthenes — Jadi, 1 drajat itu sbnarnya brp km? 1 drajat itu brp menit?