Just another Myscienceblogs.com weblog
Apa yang terjadi ketika seorang lulusan Matematika masuk ke ilmu sosial? Jawabannya mungkin adalah bingung. Segala logika yang dulu dapat dijadikan andalan perlahan menguap begitu saja. Non-linier tak sekadar lagi sekadar variabel yang dikalikan berulang kali, non-linier berarti ketakterdugaan, dan juga kejutan-kejutan.
Mungkin ini yang dirasakan ketika seorang anak tidak menyukai matematika. Mengapa dunia yang bisa dijelaskan dengan sejuta kata berubah menjadi angka-angka, lengkap dengan simbol integral, diferensial, epsilon, delta. Bagaimana mungkin keindahan senja, dan harumnya bunga dikuantifikasi dalam sederet angka mengenai intensitas cahaya, dan struktur kimia?
Dan giliran saya yang bertanya, kenapa sosial bisa demikian tidak teratur padahal alam begitu harmonis?
Popularity: 15%
This entry was posted by yuti on Tuesday, July 24th, 2007 at 12:48 pm and is filed under Umum. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.
There are 6 comments for this entry. Add yours
Jennie
>Segala logika yang dulu dapat dijadikan andalan perlahan menguap begitu saja. Non-linier tak sekadar lagi sekadar variabel yang dikalikan berulang kali, non-linier berarti ketakterdugaan, dan juga kejutan-kejutan.
Benar dan sangat menarik untuk dipertanyakan. Dalam matematika, sebenarnya ada juga yang disebut dengan Chaos Theory (http://en.wikipedia.org/wiki/Chaos_theory). Jadi, dalam setiap chaotic event, pasti ada polanya juga, namun random.
Very nice posting.
July 25th, 2007 at 1:22 am
yuti
Thank you:)
Yup, dan pemahaman mengenai chaos theory kian mempersulit ilmu sosial, karena kekurangan data di bagian awal bisa sangat mempengaruhi hasil akhir. Akumulasi-akumulasi yang terjadi, bifurkasi(percabangan), perilaku chaotic yang dihasilkan menjadi berbeda, karena itu cuaca masih tetap menjadi ramalan, dan bukan kepastian:)
July 25th, 2007 at 1:21 pm
bee
Karena yg dijadikan kasus adalah seorang anak, maka posting ini ada benarnya juga. Karena pada umumnya anak belum benar2 menguasai dan memahami ‘keindahan’ tiap2 ilmu pengetahuan.
Tapi tidak demikian kalo kasusnya menimpa seorang ahli matematika atau ahli sosial. Keindahan alam, harumnya bunga, dlsb, tetap nampak indah walaupun dikuantisasikan dalam persamaan2 matematika, krn sebenarnya semua keindahan tsb juga mempunyai pola. Justru kuantisasi matematika membuat sang matematikawan melihat ‘keindahan’ lain dari alam. Begitu juga jika menimpa ahli sosial. Deretan persamaan matematika yg nampak rumit bisa menunjukkan keindahan tersendiri. Ingat bahwa 1+1 tidak selalu sama dgn 2?
> Dan giliran saya yang bertanya, kenapa sosial bisa demikian tidak teratur padahal alam begitu harmonis?
Dengan sudut pandang lain, saya bisa mengatakan bahwa sosial sebenarnya sangat teratur, dan alam sangat tidak harmonis.
July 25th, 2007 at 3:26 pm
yuti
Setujuuuuu!!!! Buat orang math, persamaan itu indah, dan saya sering banget diledekin karena bilang seperti itu, “bagaimana mungkin deret, dan simbol-simbol dikatakan indah?” Begitu tanggapan yang paling sering saya peroleh.
Ok, sip. Kesimpulannya kalau tidak mengerti bahasanya akan terjadi mis-komunikasi, dan mis-komunikasi bisa berakibat pada salah paham. Hmm.. artinya… saya harus banyak belajar bahasa sosial ya?
July 25th, 2007 at 4:42 pm
bee
Yup! Betapa banyak konflik/perang/pertikaian yg terjadi kadang hanya disebabkan mis-komunikasi yg berujung pada mis-pemahaman. Pun andaikata masing2 pihak (yg terlibat konflik/perang/pertikaian) mengerti ‘bahasa’ pihak lain, tapi seringkali juga tidak mau memahaminya atau bersikukuh dgn sudut pandangnya sendiri.
July 25th, 2007 at 7:45 pm
afissa
menurut saya sosial punya banyak faktor yang harus dipertimbangkan dalam menyelesaikan masalah sehingga 1+1 tak lantas jadi 2..ilmu pasti menyatakan sesuatu dari satu sudut berdasarkan teorema-teorema yang exact adanya…
September 28th, 2007 at 2:29 pm