You're here: My Science Blogging » Matematika » Article: Matematika dalam Mitos
Ketika saya masih berstatus sebagai mahasiswa Matematika, seorang Bapak menyapa, “Wah mahasiswa kok jalannya lemas, yang semangat dong.” Mendengar sapaan yang tiba-tiba tersebut, saya terkejut. Belum usai keterkejutan saya, bapak tersebut melanjutkan sapaannya dengan menanyakan jurusan saya. “Matematika, Pak,” jawab saya. “Pantas jalannya lemas, kebanyakan melihat angka sih,” balas bapak tersebut sambil tersenyum. Sayangnya, saat saya hendak memberikan tanggapan, kami berpisah jalan.
Tanggapan serupa sering saya peroleh ketika berkenalan dengan seseorang dan kemudian menanyakan jurusan saya. Umumnya mereka menganggap matematika pelajaran yang mengerikan dan memiliki prospek kerja yang suram. Namun pandangan matematika sebagai pelajaran yang mengerikan tak dimulai dari bangku kuliah, siswa SMP-SMA pun acap menempatkan matematika sebagai pelajaran yang menjadi momok menakutkan. Suka atau tidaknya seseorang terhadap suatu bidang ilmu sebenarnya sangat personal, seperti pilihan seseorang terhadap jenis musik ataupun warna favorit, tapi ketika pandangan itu menjadi “paradigma umum”, muncul pertanyaan: ada apa dengan matematika?
Merujuk penelitian yang dilakukan oleh Angie Siti Anggari mengenai metode pembelajaran matematika, diperoleh hasil bahwa alat-alat peraga mampu menjembatani jurang ’dunia abstraksi matematika’ dengan ’dunia nyata.’ Alat-alat peraga juga merubah posisi siswa dari pengamat menjadi pelaku. Jika dalam sistem pendidikan konvensional, suasana kelas lebih banyak berlangsung satu arah, sehingga siswa hanya mendengarkan guru menerangkan, maka dengan sistem dua arah ini, siswa juga terlibat dalam proses berpikir. Sistem dua arah ini juga mengimplikasikan adanya kesejajaran antara guru dan siswa. Akibatnya, kelas yang pada mulanya hanya memiliki dua jenis himpunan yaitu siswa dan bukan siswa(yakni guru), atau orang yang tidak tahu dan orang yang tahu, kini memiliki variabel beragam. Dalam sistem baru ini, siswa tak bisa lagi dipandang sebagai himpunan yang seragam, karena daya tangkap dan gaya berpikir tiap siswa unik.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 3 komentar untuk artikel ini.
Muhamad Yusuf
wah saya ketinggalan neyh, ga pa pa ya meski saya baru join september tapi july pun tetap oke. Matematika sebagai obyek yang dianggap sulit oleh siswa buka barang baru lagi, tapi memang sudah berlangsung lama (pengalaman sendiri juga sih). Sekarang kalau dianggap Ujian Nasional sebagai “The Killing Fields” maka mesin pembunuh sebenarnya ada dalam matematika, suka atau tidak suka 90% lebih dari siswa yang tidak lulus adalah pada pelajaran matematika. Jadi harus bagaimana? Tantangan buat guru matematika ya..Tapi sayang, ketika multiple intelegence sedang digalakkan, UN seolah adalah kontradiksinya…
September 28th, 2007 at 5:52 pm
yuti
Yup, segala sesuatu yang distandarkan selalu memakan korban, entah itu pola pendidikan yang berbeda atau karena dengan standar itu ada kreativitas guru yang terpaksa mengalah pada beban kurikulum.
Memang masih menjadi pekerjaan rumah bersama
September 29th, 2007 at 5:32 pm
atmoon
salah paham dengan matematika bukan usianya sama dengan perdaban di harti ini. Ingat pertentangan antara 2 kelompok murid Pytagoras yang satu matematika dengan mengarah ke dunia materi dan yang lain matematikawan juga tapi mengarah ke dunia spiritual yang melahirkan agama2 besar.
Pertentangan ini yang masih kit abawa tanpa sadar padahal matematika adalah dasar yang meuruskan intuisi atau perasaan kita supaya tidak ngawur dan kemampuan berpikir dan bernalar kita lebih kreatif untuk mengatasi permaslahan.
Kegagalan pendidikan maupun pendidikan manusia di indoensia sebenarnya erat kaitannya dengan ketidaksukaan pada matematika. Yang lahir akhirnya adalah manusia yang maunya serba instan, lemah daya pikirnya, manja dan suka mengadu pada Tuhan (wadul) padahalsudah dianugerahi pikioran, tangan dan kaki, serta hatinurani untuk memecahkan masalah kehidupan.
Jadi, bagi indonesia pengajaran matematika sangat perlu supaya lahir generasi yang lebih kreatif.
January 29th, 2008 at 3:03 pm