Just another Myscienceblogs.com weblog
Penelitian mengenai metode belajar matematika berkelompok dilakukan oleh Dwi Priyo Utomo yang mengamati bagaimana mengembangkan pembelajaran kooperatif matematika yang berorientasi pada kepribadian(dominasi) siswa di SD serta bagaimana keefektifan dari pembelajaran tersebut.
Pengamatan yang dilakukan kepada siswa kelas V SD Muhammadiyah 8 Malang tersebut, memakan waktu 32 pertemuan(2 bulan). Penelitian ini dilakukan bertahap, yaitu: penyampaian tujuan dan motivasi siswa, penyampaian materi pelajaran, pengelompokkan siswa, pemberian bimbingan, evaluasi, dan pemberian penghargaan. Pengelompokkan siswa dilakukan dengan memperhitungkan aspek kemampuan akademik, dominasi dan jenis kelamin. Selain itu, Lembar Kerja Siswa(LKS) yang diberikan pada kelompok juga dibuat dengan tingkat kesulitan beragam, mulai dari yang mudah hingga yang memiliki tingkat kesulitan tinggi.
Beberapa hasil refleksi dari penelitian yang dilakukan Utomo adalah soal yang memiliki tingkat kesulitan tinggi mampu memicu timbulnya diskusi/interaksi antar anggota kelompok, diperlukan selang waktu tertentu sedemikian sehingga tiap anggota kelompok memahami persoalan yang dihadapi, serta pemberian penghargaan pada kelompok yang memperoleh poin berdasarkan sumbangan tiap anggotanya(yang diperoleh dari kuis individual).
Keuntungan dari metode belajar berkelompok ini adalah memperkecil rasio antara yang tahu dengan yang tidak tahu. Hal ini dikarenakan dalam kelompok kecil, peranan ’guru’ diambil alih oleh siswa cerdas, sehingga siswa-siswa lainnya dapat bertanya dengan lebih leluasa terhadap teman sebayanya tanpa ada penghalang malu, segan, takut, dll. Bagi siswa cerdas, metode ini juga berdampak positif, karena sebagaimana yang diungkapkan oleh Johnson dan Johnson(1989:5), pembelajaran kooperatif dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan akademik, afektif, dan sosial. Dengan demikian, siswa cerdas dapat melatih kemampuan kognisinya dengan mengerjakan soal-soal tingkat tinggi–yang jarang diperoleh dalam pengajaran konvensional karena mempertimbangkan kemampuan siswa lainnya–sekaligus melatih kemampuan afektifnya dalam suatu lingkungan sosial.
Popularity: 43%
This entry was posted by yuti on Tuesday, July 10th, 2007 at 3:40 pm and is filed under Pendidikan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.
Join the discussion. Add your comment.