Just another Myscienceblogs.com weblog
Steve Olson dalam buku Count Down, Six Kid Vie for Glory at the World’s Toughest Math Competition, mengisahkan perbedaan pengajaran matematika di Amerika dengan di Jepang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Stigler sebagai bagian dari program Third International Mathematics and Science Study, ia menemukan kesamaan diantara 81 kaset video yang merekam aktivitas belajar kelas matematika tingkat delapan di Amerika.
Sang guru biasanya memulai dengan mengulas materi-materi yang dibahas kali sebelumnya, seringkali dengan memeriksa pekerjaan rumah. Mereka kemudian menunjukkan cara-cara matematika yang dipelajari hari itu, misalnya mengalikan pecahan atau menghitung luas. Para siswa kemudian diberikan lembar soal berisi latihan-latihan, kemudian para siswa mulai mengerjakannya. Menjelang kelas berakhir, beberapa latihan dibahas dan pekerjaan rumah diberikan (Steve Olson, ’’Count Down”, Gunung Pi).
Pengajaran matematika di Jepang relatif berbeda. Kelas dimulai dengan pengantar singkat, kemudian guru menyajikan satu soal yang cukup sulit dan tidak mengajarkan siswa cara memecahkan soal tersebut. Para siswa lalu mengerjakan sendiri soal tersebut, baik mandiri maupun berkelompok, sambil diawasi oleh guru yang berkeliling untuk melihat berkembangan dan memberikan saran-saran. Setelah sepuluh atau 15 menit, salah seorang siswa diminta untuk mempresentasikan apa yang diperolehnya di depan kelas, dengan masukan dari guru jika siswa tersebut mengalami hambatan.
Cara serupa dilakukan oleh Titu Andreescu, pelatih Tim Olimpiade Amerika asal Rumania. Pada tahun 1994, tak lama setelah Titu menjadi asisten pelatih, keenam anggota tim Amerika meraih nilai penuh atas keenam soal yang diajukan pada Olimpiade di Hongkong. Tahun berikutnya, Titu diangkat menjadi kepala pelatih tim Olimpiade. Pria yang pernah memperkuat Tim Olimpiade Rumania pada tahun 1973 ini, beranggapan pemberian soal yang menantang adalah kunci pendidikan yang berhasil.
Perbedaan pendekatan terhadap pengajaran matematika ini juga berdampak pada cara pandang. ”Di Rumania, ketika orang tahu kau seorang matematikawan, mereka akan bilang, ’Aku dulu pintar matematika.’ Dan yang bicara begitu adalah sopir taksi. ’Matematika adalah pelajaran favoritku.’ Itulah sebabnya tim-tim dari Eropa Timur berhasil dengan baik, karena matematika adalah bagian dari budaya mereka. Di sini(Amerika), guru-guru sekolah dasar dan sekolah menengah banyak yang membenci matematika. Bagaimana bisa mereka mengajar matematika kalau mereka membencinya? Ketika delapan dari sepuluh orang di negeri ini mengetahui bahwa aku adalah matematikawan, mereka bilang, ’Ya ampun, aku amat parah dalam matematika’, ” ujar Titu.
Paul Zeitz, peserta Olimpiade Matematika tahun 1974 dari Amerika, mencoba menerapkan pemberian soal yang menantang pada murid-muridnya. Selama menjadi pengajar matematika selama 5 tahun di sekolah asrama Colorado Springs, Zeitz diberi kebebasan untuk membuat kurikulum. Mengenalkan soal-soal dengan tingkat kesulitan tinggi, menurut Zeitz, mencegah anak-anak cerdas bosan, sekaligus membuat yang lain merasa santai karena tak ada sederet prosedur kaku untuk mengerjakan soal. ”Kau harus berpetualang dan tidak perlu mencemaskan konsekuensinya,” ujarnya.
Popularity: 67%
This entry was posted by yuti on Monday, July 9th, 2007 at 1:10 pm and is filed under Pendidikan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.
There are 22 comments for this entry. Add yours
M Fahmi Aulia
sayang sekali, stereotip matematika yg berkembang di Indonesia justru kebalikannya..
“Matematika adalah pelajaran yg paling kuhindari”
“Matematika susah”
“Matematika gurunya killer”
bla bla bla…
ps: berlaku hampir serupa untuk Fisika
July 10th, 2007 at 12:54 pm
yuti
Yup, dan sayangnya mitos itu diperkuat terus dengan petikan-petikan orang-orang yang bilang math itu mengerikan.
Jadi kaya fenomena telor-ayam
July 10th, 2007 at 3:17 pm
priska
matematika adalah pelajaran paling di benci aku karena sangat rumit. bagamaimana agar kita paham matematika?
September 27th, 2007 at 3:52 pm
yuti
Langkah pertama adalah dengan menyukainya. Guru di sekolah mungkin cocok untuk beberapa orang, dan tidak dengan beberapa murid lainnya. Untuk mengatasi hal tersebut bisa dengan mencari artikel-artikel yang menarik di internet tentang matematika.
Meski mungkin terdengar dangkal, untuk mengenal matematika bisa melalui situs-situs untuk pemula, seperti untuk balita atau usia 6-10 tahun. Dari situs-situs tersebut, saya mendapatkan pola yang akan terus digunakan dalam matematika.
September 28th, 2007 at 1:07 pm
novi
Dengan menyukainya aku masuk menjadi mahasiswa matematika…meski ku akui aku paling bodoh soal matematika. Tapi aku beruntung menjadi orang bodoh asalkan tidak malas untuk belajar untuk mengerti bidang yang kusukai ini…
October 9th, 2007 at 6:41 pm
mesi
sekarang ini gw lagi ada masalah besar.gw sendiri juga bingung gw paling bodoh dalam hal matematika.nilai ulangan diantara sekelas gw yang paling kecil aduh sedih banget brabe gwgimana donk,padahal gw udah mulai menyenangi matematika.kenapa matematika itu susah banget.gw selalu rendah dlam matematika.gw gak tau mesti harus berbuat apa.sedih banget.menurut gw pelajaran matematika itu menyenangkan juga.gak membosankan.
October 19th, 2007 at 9:28 pm
mesi
saya mau sharing nich gimana caranya cepat memahami ilmu matematika.suatu saat nanti gw mau pintar dlam matematika.gw udah mulai menyenangi matematika.emang such waktu sma gw paling benci pelajaran matematika.tapi gw pikir panjang,gw jadi tau matematika adlaah segalanya dari seluruh ilnu lainnya. matematika adlaah modal utama.matematika adalah raja dan pelayan.matematika adalh bidang utama.
October 19th, 2007 at 9:31 pm
yuti
Hi mesi…
menyukai adalah langkah yang pertama. banyak yang tidak mau belajar matematika, karena belum apa-apa sudah ketakutan terlebih dahulu. tapi sebagaimana langkah awal lainnya, suka juga harus disertai dengan belajar yang baik. ada banyak kisah matematikawan seperti Gauss, Fermat, Galois yang memang benar-benar cerdas, hingga kerja keras rasanya tidak perlu. namun yang benar adalah karena mereka menyukai matematika, maka mengerjakan matematika tidak dianggap sebagai belajar ataupun kerja keras. mungkin ada enaknya juga kalau ada soal-soal yang di sharing di sini.
salam kenal,
yuti
October 22nd, 2007 at 7:21 pm
wandri
menurut saya apa yg membedakan pahaman matematika dengan pemelajaran nya??
terima kasih before
October 26th, 2007 at 12:10 am
wandri
salm sejahtra,,
saya adalh orang yg baru lulus dari SMA,,,namun ketika saya di hadapkan pada jurusan tuk kuliah saya,,pingin sekali bisa masuk di jur matematika,,
tapi ada ygg saya tanyakan,,jika kelak saya lulus nanti, saya akan bekerja kmna? apa saya akan menjadi guru? atau yg lain,,?? nah itu yg menjadi kekhawatiran saya,,
terimakasih,,,
October 26th, 2007 at 12:16 am
yuti
Salam juga wandri…
Ciri-ciri paham adalah jika ada diferensiasi soal, kita tetap bisa mengerjakannya, bahkan bisa membuat soal sendiri. Menurut dosen saya, cara belajar matematika hingga bisa sampai paham bisa dilakukan dengan cara-cara seperti ini: pertama mengerjakan contoh-contoh soal, kemudian coba soal lain yang tidak ada jawabannya. Kalau bisa, artinya sudah terbentuk semcam kepahaman dalam kepala kita.
Lulusan matematika banyak yang bekerja di Bank atau asuransi. Kalau mau memilih pekerjaan itu, nanti banyak pilih jalur matematika keuangan atau statistika. Atau bisa juga ke jalur programming.
October 26th, 2007 at 4:38 pm
ben
buat wandri..
kebetulan saia lagi kul di jur matematika di ptn di bandung. klo menurut saia, lulusan matematika itu banyak terserap kemana ja, istilah nya itu fleksibel banget, karena kita emang dibutuhin di bidang apapun.
Benar apa yang dikatakan oleh yuti di atas klo bag matematika yang dibutuhkan di dunia perbankan maupun asuransi kita paling tidak menguasai statistik. Itu sangat berguna untuk menjadi nilai lebih dari lulusan matematika.
November 29th, 2007 at 5:08 pm
sanni
gimana yyyy…
awalnya matematika buat aku muak .tetapi, kenapa sekarang aku begitu mengaguminya?
ternyata guru-guru ku dulu g bisa ngajar matematika dengan menyenangkan.
But, now I’m sure .I can be mathematician!!!
(~_^)
April 9th, 2008 at 6:06 pm
yuti
I’m happy for you sanni:)
memasuki dunia matematika untukku seperti masuk dalam lautan teka-teki, menjengkelkan jika tidak terpecahkan tapi sekaligus menantang.
April 10th, 2008 at 1:05 am
riza
assalamu’alaikum…
saya seorang guru matematika, sekaligus pelatih tim olimpiade di sekolah saya. Jika kita suka sama matematika, soal-soal “unik” yang keluar pada IMO (olimpiade) lebih menarik dari pada soal-soal biasa yang kita berikan untuk siswa di kelas. Sama seperti pendapat yuti, jika penyelesaiannya belum terpecahkan maka kita semakin tertantang!
April 16th, 2008 at 1:03 pm
FESHA
BANYAK LATIHAN DAN LATIHAN - MENGERTI DARIMANA DATANGNYA RUMUS APALAGI COBA MENGOTAK ATIKNYA (MESKI G SMUANYA )DAN TIDAK TERPAKU PADA HAFALAN RUMUS RUMUSNYA APALAGI MULAI MENYUKAINYA ITU AKAN MEMBANTU QT SEMUA UNTUK DAPAT MENGERTI MM
April 20th, 2008 at 11:58 pm
indz
matematika asiiikkk bgd
May 28th, 2008 at 1:52 pm
Murdana
matematika itu asyik dan menantang.
banyak kalangan yang menganggap bahwa matematika sekedar ilmu hitung, tetapi menurut saya matematika adalah ilmu tentang logika.
Hidup dimulai dari Matematika
Makan pula dari matematika
July 24th, 2008 at 1:34 pm
Murdana
Melatih pola pikir melalui matematika
July 24th, 2008 at 1:37 pm
Sriati
Matematika bagi saya sangat mengasyikkan
July 25th, 2008 at 7:52 pm
Fengky, S.Si.
Dear all…pencinta matematika..
Saya senang sekali menemukan blog ini pas ketika saya sedang menyelesaikan tesis saya yang berkenaan dengan pembelajaran matematika. Saya sedang meneliti learning styles/gaya belajar matematika pada anak sekolah dasar. Pada pre-reseach saya temukan ternyata matematika bukanlah sebagai pelajaran yang seutuhnya mengerikan di mata anak2, namun ketika anak2 mulai memasuki dunia sekolah dan lingkungan yang lebih luas lagi yang kurang kondusif maka lahirlah persepsi mengenai matematika sebagai pelajaran yang mengerikan.
Research saya, mudah-2an dapat diaplikasikan pada pendidikan nasional indonesia, khususnya pembelajaran matematika.
Oh ya ada yang bisa bantu untuk mengirimkan data prestasi matematika untuk lulusan sekolah dasar mulai dari tahun 1996 - 2008?
Terimakasih.
BE happy,
Frengky
Genuine Educator
0818276871
September 5th, 2008 at 1:33 pm
yuti
Halo Frengky, senang Anda bisa ‘tersasar’ ke blog ini:) Di tulisan lain di blog ini saya juga pernah menyinggung masalah persepsi. Saat itu di kampus ada lokakarya mengenai persepsi anak terhadap matematika dan salah satu narasumbernya adalah seorang psikolog. Menurut beliau, ketakutan terhadap matematika dipengaruhi oleh faktor lingkungan…
September 5th, 2008 at 1:42 pm