Just another Myscienceblogs.com weblog
Komentar di posting Pendidikan Matematika, sedikit menggelitik saya. Mengapa 3 pelajaran dapat menentukan kelulusan seseorang, dan mengapa matematika merupakan salah satu diantara ketiganya? Merujuk pandangan Chomsky akan adanya Language Acquisition Device dalam diri tiap individu yang menyebabkan seorang anak dapat menerima bahasa apa saja yang disampaikan padanya, anak di mana pun memakai strategi yang sama dalam memperoleh bahasa ibunya, dan makhluk selain manusia tidak dapat memperoleh bahasa, mungkin pemilihan bahasa menjadi masuk akal. Lalu bagaimana dengan matematika?
Senada dengan bahasa yang digunakan manusia sebagai medium untuk menyampaikan apa yang ada dalam pikiran, matematika pun merupakan komunikasi untuk menjelaskan semesta. Hanya saja, matematika lebih mirip seperti puisi yang hanya membutuhkan sedikit notasi untuk menjelaskan fenomena fisik. Tak ayal, penikmat matematika menjadi terbatas. Sama halnya ketika seorang yang tidak bisa berbahasa Jerman, tiba-tiba dihadapkan pada sebuah teks Jerman. Ia tahu yang dihadapinya adalah abjad latin yang disusun berdasarkan struktur bahasa Jerman, namun ia tidak mampu memperoleh pemahaman apapun dari teks tersebut.
Pengaruh kebiasaan seseorang terhadap pemahaman matematika diungkapkan oleh Reuben Hersh. Ia memandang matematika bukan sebagai kegiatan fisik ataupun mental, melainkan sosial. Matematika merupakan bagian dari budaya dan sejarah. Matematika serupa dengan hukum, agama, uang, dan lain-lain yang nyata, namun sekaligus hanya sebagai bagian dari kesadaran manusia secara kolektif. Posisi matematika sebagai bagian dari kesadaran manusia secara kolektif ini bisa dilihat dari perjalanan sejarahnya.
Bermula dari peralihan dari mencari makan dengan memburu menjadi bercocok tanam, para petani menghadapi masalah pencatatan hari dan musim, serta pengetahuan tentang banyaknya makanan dan benih yang harus disimpan. Masalah inilah yang melahirkan angka dan menjadi cikal bakal matematika. Selanjutnya, perkembangan matematika sangat dipengaruhi oleh kebutuhan masyarakat.
Karena itu keberadaan matematika dalam Ujian Nasional tak bisa dilihat hanya dari kurikulum, tapi tujuan dari pembelajaran matematika itu sendiri, dan terutama oleh kebutuhan. Jika pada tingkat selanjutnya dibutuhkan kemampuan matematika pada tingkat tertentu, maka keberadaan matematika menjadi hal lumrah, tapi jika tidak, maka parameter tersebut patut dipertanyakan kembali.
Popularity: 26%
This entry was posted by yuti on Tuesday, July 3rd, 2007 at 1:13 pm and is filed under Pendidikan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.
There are 9 comments for this entry. Add yours
firman firdaus
nice article…
July 12th, 2007 at 6:06 pm
yuti
thanks
July 12th, 2007 at 8:32 pm
bee
Ah, org Indonesia. Alasan bahwa Matematika gak layak jadi materi UN (ujian nasional) hanya alibi (cari2 alasan). Saya setuju sekali Matematikan *harus* jadi salah satu materi UN. Bahkan kalo mau di-”padat”-kan lagi, UN cukup 1 materi uji saja, yaitu: Matematika.
July 18th, 2007 at 2:39 am
yuti
Huahaha, UN saya nilainya bisa tinggi dong:), tapi tentu aja penentuannya tidak sesederhana itu. Apalagi kalau menyangkut pertanyaan, matematika seperti apa yang haru diujikan, apakah bermanfaat untuk pendidikan formal tingkat selanjutnya. Pertanyaan ini juga berlaku untuk pelajaran yang diajarkan lainnya.
July 18th, 2007 at 12:49 pm
bee
Kalo udah pertanyaannya begitu, itu adalah masalah kurikulum. Yg saya maksud disini adalah materi uji. Kebetulan tadi sempat diskusi kecil2-an dgn beberapa temen terkait masalah UN ini. Dan kami sampai pada kesimpulan bahwa minimal ada 2 materi yg *harus* diujikan dalam UN, yaitu: Matematika dan Bahasa (Indonesia). Banyak yg gak setuju kalo hanya Matematika saja.
Matematika mewakili bahasa alam, dan Bahasa mewakili bahasa manusia. Dari dua ilmu dasar ini, kita bisa mempelajari ilmu2 lainnya. Apakah ada cabang ilmu yg sama sekali bisa lepas dari Matematika dan Bahasa? 
July 18th, 2007 at 7:56 pm
yuti
Kalau memang yang diperlukan adalah bahasa, materi uji UN yang sekarang sudah memadai. Matematika sebagai bahasa alam, bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi sehari-hari, dan bahasa Inggris untuk bercakap-cakap dengan orang-orang dari belahan bumi yang lain.
Dalam peberapannya, saya pribadi melihat manfaat matematika lebih pada pola pikir.
July 19th, 2007 at 1:03 pm
Ummu Firdausi
Ya, saya setuju sekali, bahkan Dirjen Dikti dalam suatu seminar mahasiswa S3 di Bandung sempat melontarkan wacana: tak perlu pusing2 dan banyak2 bikin soal sipenmaru, spmb, umptn (atau apalah namanya) untuk menyeleksi lulusan SMA yang bisa mikir logis. Uji saja dengan matematika dan bahasa (terserah bhs Indonesia atau Inggris). Berdasarkan pengamatan saya, seseorang yang logikanya jalan biasanya bahasanya juga bagus, terlepas dari media penyampaian yang dipilihnya. Saya punya pengalaman ikut ujian masuk PT ambil akuntansi (jadi masuk IPS, kan?). Dengan hanya berbekal matematika dan bahasa Inggris saya bisa masuk tuh. Setelah kuliah, ternyata sebagian besar mahasiswanya dari SMA IPA. Terbukti, kan?
August 31st, 2007 at 1:41 pm
TGH.Nizar AL_Kadiri
matematika memang bahsa, tapi sebagian saja dalam matematika itu dijalari tubuhnya dengan darah bahsa. mungkin dalam LOGIKA iya dan sub pokok bahasan seperti kalimat berkuantor dll. bukan itu saja, bahasa pemerograman juga matematika bisa bicara kok. sekarang matematika oleh Prof. Fahmi Basya sedang diajarkan bahasa AL-Quraan. hasilnya sudahbisa kita baca sebagian, seperti bilangan prima al-quraan itu kan, deajat solat dan masi banyak lagi.
matematika memang bahasa dan bahasa matematika tidak seperti bahasa..
ia diam dal bicaranya
tulisan singkatnya dibaca panjang
dan kebenarannya yang tunggal tidaklah mutlak
November 26th, 2007 at 1:57 pm
vandha
Wah…Matematika, belum lagi Fisika.
Tetapi yang pasti mental bangsa Indonesia sudah 32 tahun terbentuk untuk tidak serius dalam mengelola “pendidikan”, apalagi di zoom ke Matematika.
Lihat saja sekarang, Fakultas MIPA (prodi Fisika & MM) semakin kurang peminatnya, kenapa?
Mungkin ada pikiran2:
- Belajarnya sulit
- Cari kerja sulit
- Penghargaan dikit
Belum lagi untuk pengembangan, penelitian dan lainnya…..
April 29th, 2008 at 5:17 pm