You're here: My Science Blogging » Pernik Ilmu » Article: Terbentuknya Bintang
Malam yang cerah. Saya sedang mujur, ditraktir makan malam beramai-ramai oleh seorang teman yang baru saja diterima bekerja di sebuah perusahaan minyak.
Sesudah makan, kami ngobrol-ngobrol sampai rada malam. Pas selesai makan, sempat intip langit sebentar. Wow! Ada banyak bintang di langit. Perasaan tadi belum ada deh, hehehe.
Awalnya ada bintang, gimana ya?
Wiki bilang bahwa bintang terbentuk di dalam awan molekul; yaitu sebuah daerah medium antarbintang yang luas dengan kerapatan yang tinggi (meskipun masih kurang rapat jika dibandingkan dengan sebuah vacuum chamber yang ada di bumi). Awan ini kebanyakan terdiri dari hidrogen dengan sekitar 23–28% helium dan beberapa persen elemen berat.
Proses pembentukan bintang dipengaruhi oleh gravitasi, dimana ada saat-saat dimana gravitasi ini tidak stabil, yang diakibatkan oleh gelombang kejut dari supernova atau tumbukan antara dua galaksi. Sebutlah namanya instabilitas Jeans.
Sekali sebuah wilayah mencapai kerapatan materi yang cukup memenuhi syarat terjadinya instabilitas Jeans, awan tersebut mulai runtuh di bawah gaya gravitasinya sendiri.
Berdasarkan syarat instabilitas Jeans, bintang tidak terbentuk sendiri-sendiri, melainkan dalam kelompok yang berasal dari suatu keruntuhan di suatu awan molekul yang besar, kemudian terpecah menjadi konglomerasi individual. Hal ini didukung oleh pengamatan dimana banyak bintang berusia sama tergabung dalam gugus atau asosiasi bintang.
Begitu awan runtuh, akan terjadi konglomerasi individual dari debu dan gas yang padat yang disebut sebagai globula Bok. Globula Bok ini dapat memiliki massa hingga 50 kali Matahari. Runtuhnya globula membuat bertambahnya kerapatan. Pada proses ini energi gravitasi diubah menjadi energi panas sehingga temperatur meningkat. Ketika awan protobintang ini mencapai kesetimbangan hidrostatik, sebuah protobintang akan terbentuk di intinya. Bintang pra deret utama ini seringkali dikelilingi oleh piringan protoplanet. Pengerutan atau keruntuhan awan molekul ini memakan waktu hingga puluhan juta tahun. Ketika peningkatan temperatur di inti protobintang mencapai kisaran 10 juta kelvin, hidrogen di inti ‘terbakar’ menjadi helium dalam suatu reaksi termonuklir. Reaksi nuklir di dalam inti bintang menyuplai cukup energi untuk mempertahankan tekanan di pusat sehingga proses pengerutan berhenti. Protobintang kini memulai kehidupan baru sebagai bintang deret utama.
Woowww! Panjang ya prosesnya
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja
Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
bayu
mohon maaf bila mbak punya rumus mengukur jarak antar planet, bumi, matahari, bula dan rasi bintang saya sangat terima kasih. n maaf salam kenal dari pecinta bintag
April 8th, 2009 at 7:07 pm
ibnusomowiyono
Apakah debu-debu pembentuk bintang itu tiba-tiba nongol tanpa sebab? Debu-debu itu “diciptakan” dari sesuatu yang tiada (nothing) menjadi ada (something) dalam seketika atau melalui proses evolusi?
May 18th, 2009 at 12:36 pm