Khazanah Ilmu Bagi Anak
Di kantor, saya punya rekan kerja bernama Willy Setiadi, seorang Graphic Designer dan Game Animator. Orangnya lucu dan kocak. Tapi, bagian paling lucu dari dirinya—menurut saya—adalah saat dia kepedasan. Teman yang satu ini sepertinya memiliki toleransi sangat rendah terhadap rasa pedas. Orang lain belum bilang pedas, buat dia sudah pedas sekali. Kalau sudah kepedasan, matanya merah, hampir menangis. Dan kalau sudah demikian, buru-buru pasti diantara tim akan mencari segelas air untuknya. Kasihan..
Sebenarnya, kenapa Willy bisa kepedasan sampai demikian? Apakah rasa pedas memang bisa hilang dengan meminum air putih?
Untuk mengukur panas cabe yang pedas, metode yang dikenal paling baik adalah didasarkan pada jumlah ekstrak cabe dicampur dengan air yang diperlukan juri perasa untuk merasakan panas. Dulu kita pernah membahas bahwa ukuran kepedasan cabai diukur dengan skala Scoville, karena metode pengukuran ini ditemukan oleh Wilbur L. Scoville, seorang Farmakologis, pada tahun 1912.
Mau tau cara mengukur panas cabai? Ada disini. Metode pengukuran ini mengandalkan cita rasa manusia yang sifatnya subjektif. Makanya, pada kasus Willy teman saya ini, makanan yang dia rasa pedas sekali mungkin belum tentu pedas bagi orang lain.
Willy merasakan panas yang membakar mulutnya karena adanya senyawa capsain di dalam cabe. Sifat senyawa ini adalah memberikan sensasi panas ketika mengenai saraf reseptor.
Trus, gimana dong cara bantu Willy? Jika memakan makanan yang mengandung cabai dan merasakan panas yang membakar seperti yang dialami oleh Willy, pasti rasanya menderita sekali. Tapi, kita bisa melakukan sesuatu koq untuk meredakannya. Apa itu? Minumlah susu atau yoghurt. Kenapa susu? Kenapa yoghurt? Karena kasein, senyawa yang banyak terkandung dalam susu dan yoghurt ini akan menetralkan capsain.
Nah, kalau minum air bagaimana?
Kalau air juga mengandung casein sih, ya minum air saja. Sayangnya, tidak ![]()
Popularity: 35%
This entry was posted by Yessi Pratiwi on Friday, July 25th, 2008 at 9:51 pm and is filed under Biologi, Penemuan, Fisika, Tubuh Kita, Blogroll, Umum. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.
There are 3 comments for this entry. Add yours
dhieptha
tetapi orang orang disekitar rumah saya sering sekali apabila mereka kepedasan mereka justru meminum air ato minuman yang panas dan seketika itu juga rasa pedas itu hilang,saya pun juga sudah pernah mencobanya,dan benar saja rasa pedas itu hilang,apakah metode itu baik?????????thanks
July 28th, 2008 at 1:57 pm
Yessi Pratiwi
Dear Dhieptha,
Seperti yang kita ketahui, lidah memiliki syaraf perasa. Beda letak, beda juga ciri rasanya :manis, pedas, asin,dll.
Apa yang Anda dan tetanga Anda lakukan sebenarnya adalah mengacaukan kerja syaraf perasa.
Di satu sisi, lidah Anda sedang mengecap pedas.
Di bagian lain, lidah Anda merasa kepanasan.
Informasi dari indera pengecap ini kemudian disampaikan ke otak, dan membuat Anda merasa sudah tidak kepedasan lagi, walau sebenarnya yang terjadi bukanlah demikian.
Terimakasih
August 13th, 2008 at 3:04 pm
jir
aku juga sama kaya willy.
ga bisa tahan sama pedas.
kalo orang tuaku bilang aku disuruh minum yang hangat-hangat.
tapi itu ga berhasil untukku.
kalo kepedasan,aku bisanya minum air es.
tapi ya masih terasa panas di lidah.
apa itu juga karena kekacauan kerja syaraf perasa?
Kalau seperti itu apa ada kerugian atau efek untuk syaraf perasa kita??
August 20th, 2008 at 11:33 pm